
PAMEKASAN, Faamnews — Kenaikan harga plastik yang belakangan ini dirasakan para pelaku usaha perlahan mengubah wajah aktivitas perdagangan. Bagi sebagian orang, kondisi ini menjadi beban baru. Namun, bagi sebagian lainnya, justru membuka ruang untuk perubahan.
Di tengah situasi tersebut, suara dari kalangan akademisi mulai mengemuka. Endang Triwahyurini, pegiat lingkungan sekaligus dosen Universitas Islam Madura (UIM), melihat fenomena ini tidak hanya sebagai persoalan ekonomi, tetapi juga sebagai titik balik yang penting bagi masa depan lingkungan.
Menurutnya, lonjakan harga plastik yang dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah telah berdampak langsung pada rantai distribusi energi global. Efeknya merembet hingga ke sektor industri plastik yang selama ini menjadi tulang punggung kemasan berbagai produk, khususnya bagi pelaku UMKM.
“Banyak pelaku usaha yang selama ini sangat bergantung pada plastik. Ketika harganya naik, otomatis biaya produksi ikut meningkat,” tuturnya. (14/4/2026)
Kondisi tersebut memaksa pelaku usaha untuk berpikir ulang. Harga jual harus disesuaikan, margin keuntungan tertekan, sementara daya saing tetap harus dijaga. Tidak sedikit yang kini mulai mencari cara agar tetap bertahan di tengah tekanan biaya.
Namun di balik tantangan itu, Endang melihat adanya peluang yang jarang disadari.
Selama ini, plastik begitu lekat dalam kehidupan sehari-hari karena harganya yang murah dan mudah didapat. Tanpa disadari, kondisi tersebut turut mendorong tingginya penggunaan plastik sekali pakai yang berdampak buruk bagi lingkungan.
Kini, ketika harga plastik tidak lagi “seramah” dulu, ada dorongan alami untuk mencari alternatif.
“Inilah momentum yang seharusnya kita manfaatkan. Ketika plastik menjadi mahal, orang akan mulai melirik pilihan lain yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Bagi Endang, perubahan ini tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha untuk menghadirkan solusi yang nyata. Kampus, dalam hal ini Universitas Islam Madura, mengambil peran dengan mendorong lahirnya inovasi kemasan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga terjangkau dan aplikatif.
Lebih dari itu, edukasi kepada masyarakat menjadi kunci. Perubahan perilaku konsumsi tidak bisa terjadi secara instan, melainkan melalui proses yang berkelanjutan.
“Kalau masyarakat mulai terbiasa membawa wadah sendiri atau memilih produk dengan kemasan ramah lingkungan, itu sudah langkah besar,” katanya.
Ia juga mendorong pelaku usaha untuk mulai beradaptasi, seperti mengurangi penggunaan plastik, beralih ke bahan seperti kertas, karton, atau daun, hingga menerapkan sistem kemasan guna ulang. Bahkan, inovasi dalam sistem distribusi seperti pre-order dinilai mampu menekan penggunaan kemasan secara berlebihan.
Pada akhirnya, kenaikan harga plastik bukan sekadar persoalan naiknya biaya produksi. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada plastik perlu dikurangi.
Dari kampus Universitas Islam Madura, pesan itu digaungkan: bahwa krisis kecil hari ini bisa menjadi jalan menuju perubahan besar di masa depan menuju pola konsumsi yang lebih bijak dan lingkungan yang lebih lestari.






