Mengungkap Fakta, Mengawal Aspirasi
RedaksiHubungi Kami

Ilusi “Tanpa Pamrih”: Perspektif Neurosains dan Hakikat Ikhlas yang Bergeser

SURABAYA, faamnews.com – Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat kita sering mengagungkan konsep “kebaikan tanpa pamrih”. Seseorang dianggap sungguh-sungguh mulia jika ia memberi tanpa mengharapkan apa pun sebagai balasan. Namun, melihat bagaimana anatomi dan biologi manusia bekerja, ada sebuah realitas yang mungkin terdengar sinis namun faktual: manusia tidak didesain untuk bisa lepas dari pamrih.

Secara medis dan neurobiologis, tindakan yang sepenuhnya tanpa pamrih adalah sebuah ilusi.

Setiap kali kita melakukan sebuah kebaikan—bahkan yang paling rahasia sekalipun—otak kita meresponsnya secara aktif. Melalui pemindaian otak fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging), terbukti bahwa tindakan menolong orang lain akan memicu aktivitas pada ventral striatum, yakni area pusat penghargaan di dalam otak. Proses ini melepaskan hormon dopamin dan endorfin yang secara instan menciptakan perasaan hangat, damai, dan bahagia (warm glow effect).

Artinya, pada level biologis yang paling dasar, kita tetap menuntut “bayaran”. Kita menolong orang lain karena hal itu membuat kita merasa menjadi manusia yang baik, atau setidaknya, untuk menghindari rasa bersalah yang akan menghantui mental jika kita memilih untuk abai. Pamrih tidak selalu berbentuk lembaran uang atau riuh pujian manusia; rasa tenang dan kepuasan batin adalah bentuk pamrih paling purba yang dicari oleh otak.

Lalu, jika secara fitrah biologis manusia selalu memiliki pamrih, apakah ini berarti konsep kemuliaan moral runtuh? Di sinilah kita perlu meluruskan sebuah kerancuan linguistik yang menjangkiti pemahaman masyarakat kita mengenai satu kata esensial: *Ikhlas.*

Dalam struktur bahasa Indonesia sehari-hari, makna kata “ikhlas” telah mengalami pergeseran yang fatal. Kita terbiasa menyamakannya dengan kata “rela”, “pasrah”, atau menyerah. Ketika seseorang tertipu, kita spontan menasihati, “Sudah, ikhlaskan saja uangnya.” Ikhlas di sini direduksi maknanya menjadi penyerahan total tanpa ekspektasi, sebuah kondisi hampa pamrih yang justru bertentangan dengan fitrah sistem saraf dan biologis manusia tadi.

Padahal, jika merujuk pada akar kata dan konsep teologis aslinya dalam Islam, ikhlas sama sekali tidak bermakna hampa ekspektasi. Ikhlas berasal dari bahasa Arab khalasa yang berarti murni atau bersih.

Islam adalah agama yang sangat selaras dengan anatomi dan psikologi manusia ciptaan-Nya. Karena manusia tidak mungkin bisa bertindak tanpa pamrih, tuntunan agama tidak pernah menyuruh kita membunuh pamrih itu. Sebaliknya, Islam memerintahkan kita untuk *memurnikan arah pamrih tersebut.*

Ikhlas pada hakikatnya adalah seni mengelola pamrih. Seseorang yang ikhlas adalah seseorang yang melakukan sesuatu dengan pamrih (ekspektasi balasan) yang sangat kuat, tetapi ekspektasi itu secara eksklusif hanya ditujukan kepada Tuhan. Ia menolong orang bukan karena ia hampa ekspektasi, melainkan ia berekspektasi mendapat rida, pahala, atau ketenangan yang bersumber dari Allah semata, bukan dari validasi lingkungan.

Pemahaman ini menyatukan sains dan agama dalam satu garis lurus yang indah. Neurosains membuktikan bahwa otak kita butuh imbalan agar bisa terus termotivasi berbuat baik. Agama menjawab kebutuhan tersebut dengan menyediakan bentuk imbalan tertinggi dan paling tidak terbatas.

Ketika kita berbuat baik kepada seseorang yang tidak tahu berterima kasih, otak kita tidak mendapatkan imbalan validasi sosial. Jika kita tidak memiliki pamrih kepada Tuhan, kita akan mudah kecewa, stres, dan akhirnya kapok berbuat baik. Namun, dengan konsep ikhlas yang presisi, kekecewaan itu tidak akan terjadi karena sejak awal “proposal pamrih” kita tidak pernah dialamatkan kepada manusia.

Kini saatnya kita berhenti memaksakan diri menjadi makhluk hampa pamrih yang menyalahi fitrah biologis tubuh sendiri. Adalah hal yang sangat manusiawi jika kita berbuat baik dan mengharapkan balasan. Tugas kita bukanlah membuang pamrih tersebut, melainkan memastikan dengan cerdas kepada siapa pamrih itu kita alamatkan.

 

Oleh: dr. Nur Muhammad

banner 325x300
Penulis: Oleh: dr. Nur MuhammadEditor: Zain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *