BANGKALAN —faamnews.com – Penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SDN Perreng 2 tahun anggaran 2025 menuai sorotan tajam. Anggaran yang nyaris menyentuh angka Rp100 juta untuk pengembangan perpustakaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana diduga tidak sesuai dengan realisasi di lapangan.
Ketua DPC Bangkalan Forum Aspirasi dan Advokasi Masyarakat (FAAM), mendesak agar dilakukan audit menyeluruh oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) maupun Inspektorat, guna mengungkap dugaan ketidakwajaran penggunaan anggaran tersebut.
“Kami minta BPK dan Inspektorat turun langsung. Ini uang negara, harus jelas penggunaannya. Jangan sampai ada penyimpangan,” tegas Tomi Ketua DPC FAAM Bangkalan. Kamis, (2/4/2026).
Kepala SDN Perreng 2, Monawi Arif, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya memberikan penjelasan terkait papan informasi penggunaan dana BOS yang sempat menjadi sorotan.
“Papan informasi itu sebenarnya sudah dipasang. Tapi karena libur panjang hari raya, kami copot dulu, khawatir rusak. Hari ini rencananya akan dipasang kembali,” ujar Monawi.
Terkait anggaran pengembangan perpustakaan sebesar Rp39 juta, Monawi menyebut dana tersebut digunakan untuk pengadaan buku seluruh mata pelajaran yang kemudian dibagikan kepada siswa.
“Buku itu untuk semua mata pelajaran. Dibagikan ke siswa kelas 3 sebanyak 44 siswa dan kelas 6 sebanyak 45 siswa,” jelasnya.
Namun pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan fakta di lapangan. Salah satu siswa mengaku pembagian buku tidak seperti yang disampaikan pihak sekolah.
“Yang dapat buku itu kelas 5, bukan kelas 6. Itu pun tidak semua pelajaran,” ungkap siswa tersebut kepada media.
Sementara itu, pada pos anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana yang menghabiskan dana sekitar Rp47 juta, Monawi menyatakan anggaran digunakan untuk pemasangan keramik dinding kelas 1 serta pengecatan.
“Anggaran pemeliharaan kami gunakan untuk keramik tembok kelas satu dan pengecatan,” katanya.
Meski demikian, kondisi fisik sekolah justru menunjukkan hal yang bertolak belakang. Sejumlah bagian bangunan terlihat memprihatinkan, mulai dari atap yang jebol hingga pintu kelas yang rusak dan berlubang.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar dari masyarakat terkait efektivitas penggunaan anggaran pemeliharaan yang nilainya tidak sedikit.
“Kalau memang ada pemeliharaan hampir Rp50 juta, kenapa kondisi sekolah masih seperti ini? Atap jebol, pintu rusak. Ini jelas janggal.” ungkapnya.
Sorotan ini semakin menguatkan dugaan adanya ketidaksesuaian antara laporan penggunaan dana BOS dengan realisasi di lapangan. Masyarakat berharap aparat penegak hukum tidak tinggal diam dan segera melakukan audit secara transparan dan menyeluruh agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam pengelolaan anggaran negara.
