TULUNGAGUNG,Faamnews.com,-FaamNews.com+ Kebahagiaan para ibu rumah tangga menikmati kestabilan harga pangan rupanya tidak bertahan lama. Setelah sempat bernapas lega selama satu bulan terakhir karena harga kebutuhan dapur turun dan stabil, kini jeritan emak-emak kembali terdengar seiring dengan diaktifkannya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kembalinya program berskala nasional ini memicu polemik di tengah masyarakat. Tingginya permintaan bahan baku untuk memasak menu bergizi secara massal disinyalir menjadi biang kerok melonjaknya harga sayur-mayur dan lauk-pauk di pasar tradisional secara drastis.
Kacang Panjang Tembus Rp 6.000 per Ikat
Kenaikan harga yang paling mencolok dirasakan pada komoditas sayuran hijau. Salah seorang ibu rumah tangga, Siti (42), mengeluhkan harga kacang panjang yang naik berkali-kali lipat dari harga normal.
”Kemarin waktu program MBG sempat ditutup sebulan, belanjaan murah banget, semua stabil. Sekarang baru dibuka lagi, harga langsung ugal-ugalan. Bayangkan, kacang panjang yang biasanya murah, sekarang satu ikat saja sampai Rp 6.000!” keluh Siti saat ditemui di pasar tradisional, Sabtu (11/7).
Tidak hanya kacang panjang, beberapa bahan pokok dan lauk-pauk pelengkap menu harian juga mengalami tren kenaikan yang sama.
Perbandingan Harga Bahan Pokok (Saat MBG Tutup vs. MBG Dibuka Kembali)
Untuk melihat kontrasnya perubahan harga, berikut adalah estimasi perbandingan harga beberapa komoditas di pasar saat ini:
KomoditasHarga Saat Program MBG Tutup (Stabil)Harga Saat
Program MBG Dibuka (Melonjak)
Kacang Panjang (per ikat)Rp 2.000 – Rp 3.000Rp 6.000
Cabai Rawit (per kg)Rp 40.000Rp 65.000
Bawang Merah (per kg)Rp 28.000Rp 38.000
Daging Ayam (per kg)Rp 32.000Rp 40.000
Telur Ayam (per kg)Rp 26.000
Polemik MBG Berkah bagi Anak Sekolah, Beban bagi Dapur Rumah Tangga?
Program MBG sejatinya memiliki tujuan mulia untuk memperbaiki gizi anak-anak sekolah. Namun, mekanisme pasar yang belum siap menampung lonjakan permintaan besar-besaran ini justru menciptakan efek domino yang merugikan sektor rumah tangga kecil.
Ketika program ini sempat diliburkan atau ditutup selama satu bulan, pasokan bahan pangan di pasar kembali melimpah sehingga harga otomatis turun dan stabil. Ibu rumah tangga sempat menikmati masa-masa tenang mengatur uang belanja. Kini, begitu program bergulir kembali, mereka harus memutar otak lebih keras agar dapur tetap ngebul.
Para ibu rumah tangga berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penyediaan makan gratis, tetapi juga ketat dalam mengawasi rantai pasok dan stabilitas harga di tingkat pedagang eceran. Jika tidak ada intervensi, polemik ini dikhawatirkan akan terus menggerus daya beli masyarakat kecil.(iw)
