MALANG – faamnews.com – Para perwakilan sopir angkot malang raya lintas jalur yang tergabung dalam dua organisasi besar, yaitu Asosiasi Driver Indonesia (ADRONE) dan Serikat Sopir Indonesia (SSI), mendatangi Rumah Makan Kantri di Mondoroko, Kabupaten Singosari, pada Rabu, 2 September 2026 pukul 12.00 WIB. Aksi disertai gesekan kecil ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan atas digelarnya pertemuan tertutup terkait perencanaan Trans Jatim Koridor II tanpa melibatkan sebagian besar perwakilan sopir angkot.
Pertemuan terselubung tersebut diketahui dihadiri oleh perwakilan Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur Cito Eko Yuli Saputro, perwakilan Organda Kota Malang Purwono Tjokro Darsono (Ipung), perwakilan Intelkam Polresta Malang Kota, serta hanya segelintir perwakilan sopir angkot (sekitar lima orang).
Ketua Umum ADRONE, Budi Andri Yanto, menyayangkan langkah penyelenggara yang mengadakan musyawarah secara diam-diam tanpa mengundang seluruh perwakilan jalur angkot di Malang Raya.
“Kami bersama SSI Malang dan rekan-rekan anggota sopir angkot sangat menyayangkan pertemuan mereka ini. Padahal kami sangat membuka ruang untuk berdiskusi bersama dengan pemerintah, terutama terkait Program Trans Jatim,” ujar Andre, sapaan akrabnya.(2/9)
Andre menegaskan bahwa para sopir pada prinsipnya mendukung penuh program pemerintah dalam memajukan transportasi di Malang Raya. Namun, mereka menuntut agar dilibatkan secara utuh agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Bambang Brengos, perwakilan jalur GA, menyebut pertemuan diam-diam ini memicu miskomunikasi dan kekhawatiran terulangnya masalah lama. Dan isu Kompensasi Koridor I yang Belum Tuntas
Kecurigaan para sopir semakin memuncak berkaca dari pengalaman implementasi koridor sebelumnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Iin Junaidi alias Soni dari perwakilan SSI Malang Raya dengan kekecewaannya. Ia mempertanyakan urgensi pembahasan Koridor II sementara permasalahan pada Koridor I dinilai belum terselesaikan sepenuhnya sesuai notulensi kesepakatan bersama di Kantor Dishub Jatim sebelumnya pada 29/7/2026.
“Kami ini juga sopir Pak, kenapa kok tidak di ajak bicara. Apa bedanya, malah kami ini yang sudah terdampak terugikan adanya koridor I. Kok malah membahas Koridor II, padahal permasalahan Koridor I janjinya diselesaikan dulu sesuai notulensi kesepakatan bersama di Kantor Dishub Jatim kemarin lusa,” tegas Soni.
Ketua jalur angkot ADL, Eko Handi Subakti, juga menyoroti ketidakjelasan dana kompensasi Koridor I. Dalam dialog yang sempat memanas, perwakilan Dishub Jatim, Cito Eko Yuli Saputro, menyatakan bahwa dana kompensasi tersebut ada dan telah disalurkan. Namun, pernyataan ini justru membingungkan para sopir karena sebagian besar merasa tidak pernah menerimanya.
Menanggapi protes keras dari para sopir yang hadir mendadak, Cito Eko Yuli Saputro berdalih bahwa pihaknya telah meminta pihak perwakilan di Malang untuk mengundang seluruh ketua jalur karena keterbatasan data kontak.
Terkait polemik dana kompensasi di Koridor I, Cito mengonfirmasi keberadaan dana tersebut meski mengaku tidak mengetahui secara rinci siapa saja pihak yang menerimanya. Dan pertemuan tersebut akhirnya ditutup dengan kesepakatan untuk menjadwalkan ulang pertemuan secara resmi dengan seluruh elemen sopir angkot secara transparan khususnya yang terdampak.
