BANGKALAN – faamnews.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penopang kesehatan siswa justru berubah menjadi kepanikan di SMPN 1 Blega. Sejumlah siswa dan seorang guru dilaporkan mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan yang dibagikan pada Senin siang (20/04/2026).
Peristiwa ini sontak mengundang keresahan di lingkungan sekolah. Salah satu guru bahkan harus dilarikan ke Puskesmas Blega, sementara dua siswa lainnya sempat terkulai lemas dan mendapat penanganan di ruang UKS.
Kepala SMPN 1 Blega Heri Soharto saat dikonfirmasi membenarkan adanya insiden tersebut. Ia menyebut korban dari kalangan guru merupakan bagian dari tim PIC MBG yang bertugas mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada siswa.
“Iya benar, satu orang guru, salah satu dari tim PIC MBG di sekolah kami yang bertugas mencicipi MBG, dan tadi sudah dibawa ke Puskesmas Blega. Ada juga dua orang murid, tetapi tidak berkenan dibawa ke puskesmas,” ujarnya kepada awak media FAAM News.
Ia menambahkan, hingga selepas pukul 14.00 WIB dirinya belum menerima informasi tambahan mengenai kemungkinan adanya siswa lain yang mengalami gejala serupa.
“Setelah pulang dari sekolah, saya masih belum ada informasi tambahan mengenai murid yang keracunan MBG, setidaknya setelah tadi pukul 14.00 WIB,” lanjutnya.
Menurut informasi yang dihimpun, makanan tersebut berasal dari penyedia bernama SPPG Nurul Islam. Kini kualitas dan kelayakan menu yang disalurkan menjadi sorotan serius.
Begitu kejadian terdeteksi, pihak sekolah bergerak cepat mengambil langkah darurat. Melalui pengeras suara, siswa langsung diminta menghentikan konsumsi makanan yang dibagikan hari itu. Sekolah juga melakukan koordinasi dengan pihak penyedia MBG, membawa guru yang terdampak ke puskesmas, serta berkomunikasi dengan Polsek Blega.
Tak hanya itu, sekolah menegaskan akan bersikap tegas apabila kejadian serupa terulang.
“Kami meminta kepada pihak SPPG untuk menjaga kualitas makan selanjutnya, dan akan mengembalikan MBG apabila makanan tidak layak konsumsi,” tegas kepala sekolah.
Insiden ini menjadi alarm keras bahwa program makan bergizi gratis tidak cukup hanya berjalan di atas slogan. Pengawasan mutu, kebersihan dapur, distribusi, hingga keamanan konsumsi harus menjadi prioritas utama. Sebab ketika kualitas diabaikan, yang dipertaruhkan bukan sekadar program, melainkan keselamatan anak-anak di ruang kelas.
