Mengungkap Fakta, Mengawal Aspirasi
RedaksiHubungi Kami

Gedung Pasar Tanah Merah Sisi Utara Mangkrak 7 Tahun, Relokasi Pedagang Tersandera “Orang-Orang Besar”

BANGKALANfaamn­ewa.com -Gedung baru Pasar Tanah Merah sisi utara di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, masih belum difungsikan meski pembangunannya telah rampung sejak 2019. Bangunan dengan anggaran puluhan miliar rupiah dari APBD itu hingga kini kosong tanpa aktivitas perdagangan.

Ratusan kios yang disiapkan untuk menampung pedagang justru terbengkalai. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Pasar Tanah Merah sisi selatan yang tetap ramai meski bangunannya sudah lama dan dinilai kurang representatif.

Proses relokasi pedagang dari pasar lama ke gedung baru tak kunjung terealisasi selama hampir tujuh tahun. Situasi tersebut memunculkan tanda tanya besar dari publik mengenai pemanfaatan aset daerah yang dibangun menggunakan uang rakyat.

Kepala Bidang Pasar Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan (Diskopumdag) Kabupaten Bangkalan, Fatahillah Reza, membenarkan bahwa relokasi belum terlaksana hingga akhir Juni 2026. Menurutnya, kendala utama adalah belum adanya kesepakatan dengan sejumlah tokoh masyarakat setempat.

“Kami sudah turun ke lapangan dan melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat, mas. Namun di situ masih belum menemukan solusi,” kata Reza saat dikonfirmasi, Jumat (26/6/2026).

Diskopumdag mengaku telah beberapa kali mengagendakan dialog dengan warga dan tokoh masyarakat Tanah Merah. Namun pertemuan tersebut belum menghasilkan titik temu terkait mekanisme pemindahan pedagang.

Reza bahkan menyatakan keheranannya mengapa relokasi tidak langsung dilakukan setelah proyek gedung selesai pada 2019 lalu. Ia menilai penundaan bertahun-tahun justru menimbulkan persoalan baru di lapangan.

“Saya juga berpikir kenapa dulu pas selesai dibangun kok tidak langsung direlokasi,” ujarnya.

Meski tersendat, Pemkab Bangkalan menegaskan bahwa relokasi pedagang ke gedung baru sisi utara tetap menjadi rencana resmi pemerintah daerah. Gedung tersebut disiapkan untuk menata aktivitas perdagangan agar lebih tertib dan meningkatkan pendapatan asli daerah dari sektor retribusi.

Namun saat ditanya kepastian waktu pelaksanaan relokasi, Reza mengaku tidak berani memberikan target. Ia beralasan ada pihak-pihak berpengaruh yang terlibat dalam proses tersebut.

“Kalau ditanya kapan yang mau direlokasi ini saya tidak bisa memastikan, mas. Karena di situ terlibat orang-orang besar, saya tidak berani, takut keliru saya, mas. Soalnya orang-orang besar di sana itu, kan paham sampean, mas,” ungkap Reza.

Pernyataan mengenai “orang-orang besar” itu memunculkan spekulasi di masyarakat. Publik mempertanyakan siapa pihak yang dimaksud dan seberapa besar pengaruhnya hingga mampu menghambat kebijakan pemerintah daerah selama bertahun-tahun.

Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi gedung Pasar Tanah Merah sisi utara masih kokoh berdiri. Namun bagian dalam pasar tampak kosong, beberapa kios mulai berdebu, dan area parkir tidak difungsikan. Tidak terlihat aktivitas jual beli di bangunan tersebut.

Pembangunan pasar ini sebelumnya disebut menelan anggaran puluhan miliar rupiah dari keuangan negara. Dengan mangkraknya pemanfaatan gedung, muncul kekhawatiran aset tersebut tidak memberikan manfaat optimal bagi perekonomian warga Tanah Merah.

Pengamat kebijakan publik menilai berlarut-larutnya relokasi berpotensi menimbulkan kerugian negara. Selain aset tidak produktif, biaya perawatan gedung yang tidak difungsikan juga akan terus membebani APBD Bangkalan setiap tahun.

Hingga kini, publik masih menunggu langkah konkret Pemerintah Kabupaten Bangkalan. Warga berharap ada kejelasan waktu relokasi dan transparansi mengenai pihak yang disebut menjadi kendala, agar gedung pasar yang dibangun dengan dana rakyat itu benar-benar bisa menggerakkan roda ekonomi di Tanah Merah

Penulis: Tomi/red
Exit mobile version