oleh

Proses Pengeringan Kulit Sapi Di Campur Dengan Tawas, Banyak Pedagang Di Nganjuk.

NGANJUK, faamnews com – Lebaran adalah momen bahagia utamanya untuk umat muslim. Saling berkunjung, bersilaturahmi ke sanak saudara, kerabat, teman dan tetangga jadi bagian tak terpisahkan. Tapi ada juga yang menghabiskan waktu berlibur ke tempat-tempat wisata. Dan tentu saja tak ketinggalan menikmati jajanan kuliner khas daerah wisata.

Kegembiraan bepergian dan makan bersama keluarga bisa jadi titik lengah dan kurang waspada. Makanan yang kita santap terkadang tak lagi kita teliti kebersihannya dan kemungkinan lain mengandung bahan kimia berbahaya. Informasi berharga itu diperoleh Tim Sigi dari sejumlah sumber di Nganjuk.

Ternyata kabar itu bukanlah isapan jempol belaka. Seorang informan dengan yakin memandu perjalanan menuju rumah peracik kerupuk kulit yang dipercaya menjual kerupuk dengan formula yang membahayakan kesehatan.

Setelah bernegosiasi pembuat kerupuk kulit sepakat menunjukkan cara pembuatan kerupuk. Tak punya dapur khusus si pembuat kerupuk kulit mempersiapkan bahan yang dibutuhkan untuk menyulap kulit sapi menjadi kerupuk kulit yang renyah. Ternyata kulit sapi yang jadi bahan utama sudah tak layak pakai.

Seluruh bahan yang dibutuhkan telah siap. Kulit lawas, minyak goreng, dan campuran racikan pamungkas cairan hidrogen peroksida atau yang dikenal dengan pemutih dan tawas.

Kini kerupuk kulit siap di buat. Pertama, kulit-kulit busuk ini di rendam dalam campuran hidrogen peroxida dengan tawas selama kurang lebih satu sampai dua jam. Intinya sampai kotoran di kulit terangkat bersih. Setelah itu dikeringkan dengan cara dijemur. Bentuk dan warna kerupuk yang menggugah selera pun didapat. Simpel sekali.

Penggunaan cairan pemutih dan tawas bukan tanpa alasan. Bahan-bahan ini sangat berguna agar kulit yang sudah tidak layak pakai tadi, bisa disulap jadi terlihat sangat layak untuk bahan baku kerupuk.

Untuk mengantisipasi harga kulit yang mahal mereka berburu kulit dengan kualitas buruk untuk mendapatkan harga kompetitif. Namun risiko di balik pembuatan kerupuk kulit dengan campuran pemutih dan tawas ini, sesungguhnya cukup besar pengaruhnya bagi kesehatan.

Potret atau fenomena pembuatan kerupuk dengan campuran bahan kimia berbahaya ternyata juga ada di lokasi lain. Tempatnya di pinggiran sebuah kota yang tak jauh dari lokasi pembuatan kerupuk kulit tadi.

Jenisnya berbeda, yaitu kerupuk lempeng berbahan dasar tepung tapioka. Sang peracik kerupuk tak segan segan menunjukkan bahan kimia berbahaya bukan untuk makanan, yaitu bleng sebagai formula andalan untuk mengenyalkan bahan dasar kerupuk.

Tepung tapioka plus tepung terigu dicampur air diaduk manual dengan tangan lalu di tambahkan bumbu penyedap serta bleng sebagai pengenyal. Seluruh bahan baku ini di masukkan plastik lalu di rebus selama kurang lebih 15 menit. Dan, bahan kerupuk lempeng matang sempurna kekenyalannya sehingga memudahkan kerupuk di potong tipis.

Mmmhhh…terlihat sangat renyah dan gurih dan sangat menggoda selera terutama para penyuka kerupuk. Tapi ingat bleng adalah bahan kimia berbahaya bukan untuk makanan. Jika dikonsumsi manusia dalam jangka waktu lam bisa berbahaya karena dapat memicu kanker.

Uji laboratorium terhadap penggunaan bleng pada kerupuk lempeng coba di lakukan. Hasilnya kerupuk tersebut positif mengandung boraks yang jelas-jelas berbahaya bagi kesehatan.

Bleng adalah bentuk tidak murni dari boraks Biasanya di gunakan sebagai bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu dan pengontrol hama seperti kecoak.

Kerupuk kulit atau yang juga di kenal dengan sebutan krecek begitu di gemari masyarakat. Beragam menu masakan bisa diciptakan dengan bahan kerupuk kulit ini. Inilah sebabnya pedagang semacam itu mampu berjualan kerupuk kulit selama bertahun-tahun, meski mereka menjual kerupuk kulit berpemutih.

Cairan pemutih atau juga di kenal dengan hidrogen peroksida merupakan oksidator kuat. Biasanya di gunakan sebagai pemutih, di sinfektan dan juga sebagai bahan dasar roket.

Sedangkan untuk para pelaku usaha ini di lakukan banyak tempat di daerah Nganjuk di antaranya ada dua nama yang sudah kami selidiki di lapangan antara lain kepunyaan saudara Tres Banaran Pace, Kecamatan Pace dan saudara Udin Kampung Baru Tanjung Anom serta Dori  Gondang Legi Kecamatan Prambon.

Dalam hal ini kami mengharapkan dari pihak instansi pemerintah baik dari Dinas terkait Kabupaten Nganjuk, Polres Nganjuk dan Polda Jawa Timur bisa melakukan sidak dalam usaha yang menyangkut nyawa manusia dengan di campur bahan-bahan pengawet sesuai Undang-undang tentang perlindungan Konsumen dan Pangan.  (Ars)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed