Menu
Mengungkap Fakta, Mengawal Aspirasi

NGO Pasuruan Gelar Aksi Teatrikal, Kritisi Dugaan “Masuk Angin” Vonis Ringan Mafia BBM

Total views : 164
  • Bagikan

PASURUAN, faamnews.com- Vonis ringan yang diterima mafia BBM Wachid cs yang di grebek oleh jajaran MabesPolri beberapa waktu lalu oleh Pengadilan Negeri Kota Pasuruan tuai kritik serta sorotan tajam dari kalangan NGO (Non Governmental Organization).

Kritik serta sorotan tajam diberikan anggota NGO Pasuruan yang dipimpin Direktur PUS@KA Lujeng Sudarto terhadap vonis yang dinilai tidak pro terhadap rakyat dengan gelar aksi teatrikal di depan kantor Kejaksaan Negri Kota Pasuruan.

Aksi teatrikal oleh gabungan Non Governmental Organization (NGO) di Kota Pasuruan digelar sebagai ekspresi atau kritik terhadap kinerja Aparatur Penegak Hukum (APH) yang dinilai masuk angin pada Hari Selasa (19/12/2023).

Dalam aksi teatrikalnya, para NGO tampak membawa sebuah buku panduan tentang hukum serta sebuah obat sachet tolak angin lantas diminum oleh salah satu peserta aksi sambil menenteng sebuah buku.

Tidak hanya membawa obat sachet tolak angin, aksi teatrikal sendiri di sertai dengan menjemur pakaian dalam di lokasi aksi mereka.

Lujeng Sudarto, Direktur Pusat Studi dan Advokasi Kebijakan (PUS@KA) menyampaikan bahwa aksi teatrikal ini berangkat dari keprihatinan atas penanganan kasus solar subsidi yang dijatuhi vonis cukup rendah tidak sebanding dengan kerugian Negara.

“Bicara hukum itu bicara tentang keadilan, kepastian, dan manfaat hukum. Kami melihat, penyidikan, penuntutan, hingga vonis kasus BBM ini tidak fair,” ujar Lujeng Sudarto.

Teaterikal ini menggambarkan situasi peradilan yang tidak pro terhadap keadilan. Ada hakim, jaksa, polisi dan pengacara yang menggambarkan kasus BBM subsidi dikuasai oleh pihak luar yang diperankan teman – teman NGO ini.

“Pemberian jamu tolak angin yang diberikan oleh aktor teatrikal ini dengan mudahnya mengintervensi ruang – ruang jaksa, pengacara hingga bahkan hakim. Dimana identik untuk meredakan masuk angin,” imbuh Lujeng.

Lebih lanjut, Lujeng juga menyampaikan bahwa vonis ini belum memenuhi rasa keadilan untuk masyarakat. Lujeng menilai ada sesuatu yang janggal dalam penanganan perkara solar subsidi ini.

“Mereka Abdul Wachid, bos solar subsidi, dan dua anaknya Bahtiar Febrian Pratama, dan Sutrisno, ketiganya menjalani vonis ringan atas perbuatannya.”

Perlu diketahui bahwa Majelis Hakim menjatuhkan vonis tiga terdakwa kasus penyalahgunaan solar subsidi lebih ringan dibandingkan tuntutan JPU. Hakim menjatuhkan vonis 7 bulan, sedangkan Jaksa menuntut ketiga terdakwa 10 bulan. (por/red/tim)

banner 325x300
Penulis: Por/red
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.