Mahasiswa Telah Membunyikan Alarm Zaman, Pemerintah Harus Peka

Total views : 133
  • Bagikan

JAKARTA ,faamnews.com  – Aksi demonstrasi 11 April yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) di depan Gedung DPR/MPR beberapa waktu lalu, menjadi pertanda bagi Pemerintah saat ini, bahwa ‘alarm zaman’ telah dibunyikan Senin, 11/4/2022.

Dalam pekan ini, kita menyaksikan rezim di beberapa negara sudah mulai berguguran, karena tidak mampu menghadapi tekanan krisis berlarut akibat ketidakpastian situasi global.

“Ini yang diserbu Ukraina, yang jatuh Perdana Menteri Pakistan (Imran Khan, red), Sri Langka sedang berjalan, Yaman sudah. Ini karena apa? karena terintegrasinya masyarakat dunia. Korbannya pasti banyak lagi, akan menimpa negara-negara yang rapuh. Inflasi adalah dampak yang sedang terjadi,” kata Anis Matta Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora).

“Kira-kira fenomena ini yang kita tangkap pada 11 April kemarin, kelihatannya fenomena ini akan terus berlanjut, Partai Gelora pada prinsipnya memberikan dukungan moral kepada gerakan Mahasiwa saat ini yang telah menyalahan Alarm Zaman,” Ungkapnya.

“Bahkan saya mendapat kabar, teman-teman mahasiswa di Bone, Sulsel, sudah menduduki DPRD Kabupaten Bone. Mahasiswa hadir kembali melakukan fungsi utamanya sebagai penjaga moral bangsa,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Ketua BEM Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Amir mengungkapkan, “Bahwa masalah penundaan Pemilu dan perpanjangan masa jabatan Presiden 3 periode, bukan menjadi isu utama gerakan mahasiswa di Makassar”.

“Tuntutan kami di Makassar adalah soal kenaikan harga pangan dan kenaikan BBM, bukan penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden. Pemerintah kelihatannya belum melakukan langkah-langkah untuk menurunkan harga-harga, kita akan terus berdemo, terus bergerak sampai kita menang,” kata Amir.

Ketua BEM Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Muhammad Ibnu Rahmata menambahkan, “Kenaikan minyak goreng dan kenaikan BBM saat ini membuat kehidupan masyarakat semakin sulit, karena kenaikan harga tersebut memicu naiknya berbagai harga pangan”.

“Mahasiswa sebagai agent of social control dan agen perubahan akan terus ke jalan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Kita mendorong dan mengupayakan tuntutan agar dikabulkan. Pemerintah harus berpihak kepada kepentingan rakyat,” kata Ibnu.

Presedium Persaudaraan Pemuda Islam (PPI)  Sumatara Utara Fahrul Rozi Panjaitan menegaskan, “Bahwa gerakan mahasiswa saat ini tidak ada yang mendanai atau memboncengi, karena murni untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, yang saat ini mengalami kesulitan”.

“Kalau ada tudingan seperti itu, sengaja diciptakan untuk mematahkan atau melemahkan gerakan mahasiswa oleh oknum-oknum atau orang-orang yang tidak mau mahasiswa turun ke jalan menyuarakan kebenaran,” kata Rozi.

 

“Minyak goreng sekarang sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Di Pulau Sumatera, terutama Langkat itu pada umumnya menghasilkan minyak goreng dengan sawitnya yang luas. Tetapi, kenapa di Sumatera Utara saja harganya naik dan langka, ini yang disuarakan kawan-kawan mahasiswa, kenaikan harga minyak goreng sekarang berdampak pada kenaikan sembako dan kebutuhan pokok lainnya,” tegasnya.

(Anang)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.