oleh

Luntur-Nya Nasionalisme Karena Faktor Pergaulan.

-Opini-251 views

SURABAYA. Faamnews.com – Halo sahabat Nusantara. Salam hangat dari Saya untuk penikmat tulisan ini. Semoga kita semua tetap cukup agar bisa tetap hidup dibawah langit pandemi ini. Kata adek saya di kampung namanya Egost “Pandemi semakin memanas. Kita tidak hanya jaga hati dan mata,toh jangan lupa untuk jaga imunitas” Salam perjuangan dulu nih merdeka, Tulisan kali ini saya akan menceritakan tentang lunturnya nilai-nilai nasionalisme Yang sering terjadi di lingkungan sekitar kita.

ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Ir. Soekarno bersama M. Hatta pada 17 Agustus 1945. Suka cita dan gegap gempita rasa bebas dari belenggu penjajahan membahana dari Sabang sampai Merauke.

Kini sudah 75 tahun Indonesia merdeka, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Apakah rasa nasionalisme masih melekat kuat pada pribadi kita sebagai rakyat Indonesia? Jika tidak, pernahkah kita membayangkan bagaimana para pendahulu kita mengalami rasa takut dan suasana mencekam di zaman penjajahan selama 350 tahun oleh Belanda plus 3,5 tahun oleh Jepang? Para pejuang merebut kemerdekaan dari penjajahan pada zaman kolonialis dengan bersusah payah sampai mempertaruhkan nyawa.

Mereka rela berkorban dan bertaruh apa saja untuk membebaskan Negeri ini dari belenggu penjajahan. Semua itu dilakukan dengan penuh rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi. Meskipun berbeda Agama ,Ras,Suku, Budaya, itu bukanlah alasan . Tetapi atas dasar cinta dan menggap semua adalah saudara maka Indonesia bisa meraih kemerdekaan.

Seiring dengan berkembangnya zaman, rasa nasionalisme seolah sudah mulai luntur. Ibarat baju berwarna merah yang sudah lama dipakai, lama-kelamaan berubah warnanya menjadi merah muda. Ah Bagaimana kabar Nasionalisme hari ini?. Jangan heran pa, ini fakta kenapa hari ini kita masih krisis Nasionalisme?, Yah salah satu sebabnya Contoh sederhana saja dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari generasi muda kita lebih cenderung bergaul dan beradaptasi hanya kepada sesama suku saja, sesama daerah,Sesama golongan.

Ini bukanlah suatu perkara Namun, Sampaikan kapan Negara Sebesar seperti Indonesia ini. Kita Sebagai generasi muda tidak menyempatkan diri belajar dan melihat budaya di daerah lain kita, Indonesia ini kan negara Ber Kepulauan Guys.Terus sampai kapan kita bisa beradaptasi dengan saudara kita yang berbeda Suku, Budaya, Agama dan lainnya? Makanya jangan heran Guys Rasisme itu selalu menjadi bahan bakar dalam potret kehidupan sehari-hari di Negara kita ini. Lebih lengkapnya krisis Sosialime Juga Nasionalisme di jiwa regenerasi.

Contoh lainnya Guys rasa Nasionalisme akan tersulut apabila ada suatu faktor pendorong, seperti pengklaiman bahwa Indonesia ini hanya dari kebudayaan ini Agama ini dan lain sebagainya. Padahal Guys, Pemikiran seperti ini hanya menganggapnya biasa saja oleh kita sebagai pemuda. Tanpa kita sadari ini sudah melukai para pejuang kemerdekaan Indonesia. Ya pembaca yang Saya kasihi kusus nya kita sebagai anak muda yang terdidik melalui pendidikan. Saya harap berhentilah membangun stigma yang seperti ini.

Pandailah beradaptasi dan belajar bergaul dengan saudara- saudara kita yang berbeda Suku, Budaya, Agama agar Bhineka tunggal Ika Bangsa kita tetap terjaga aurah keharuman Nya dan ajaran Soekarno tetap melekat dan menjiwai di seluruh pemikiran serta batin kita. Sebagai pemuda, Perjuangan kita sekarang adalah mengembalikan rasa cinta itu kepada generasi muda Indonesia tetaplh mencatat dan mengingat sejarah Tumbuhkan rasa cinta akan budaya persatuan kita sejak dini Hilangkan kebiasaan untuk bergaul hanya mencari sesama Golongan. Kapan kita bisa beradaptasi dengan yang lainnya?

 

Berkaca pada Indonesia yang krisis akan nasionalisme ini, maka kita sebagai pemuda atau generasi yang terdidik. Ayolah Hilangkan kebiasaan yang saya sampaikan di dua contoh di atas. Contoh kecil saja penulis yang menulis artikel ini merupakan mahasiswa fakultas hukum universitas Kartini Surabaya .

Dia anak rantau yang datang dari Indonesia bagian Timur, tidaklah mungkin Penulis harus membawa Budaya dari sana untuk menerapkan agar masyarakat di tanah rantau Kusus nya Jawa. Untuk mengikuti budaya dan kebiasaan orang sana, Kan ini sama hal nya perkara nasionalisme, Kecuali penulis menjelaskan budaya dan istiadat di sana seperti itu ini contoh, budaya kami minum moke , baru nembak cewe. Artinya mabok Dulu baru urusan cinta (Hahahaha iseng). Atau penulis datang rantau hanya bergaul dan mencari Sesama golongan Ras, Suku, Agama dan Budaya. Kalau penulis memakai prinsip seperti ini , buat apa kuliahnya di Jawa to kuliah di Flores saja kan sama saja.

Artinya kebiasaan untuk berbudaya cukup kita jalani Sama halnnya dengan berAgama , walaupun beda tetapi tetap dengan tujuan yang baik. “Bhineka tunggal Ika” merupakan langkah untuk menumbuhkan rasa Nasionalisme. Sejak dini kita perkenalkan dan tanamkan pada generasi muda kita, pada saudara saudara kita agar jiwa dan asas perjuangan para pejuang negara ini tetap melekat sehingga produk negeri kita, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bendera negara dan perjuangan para pahlawan kita tetap harum sepanjang masa.

Seperti yang kita ketahui Nasionalisme diartikan sebagai paham kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial dan aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan dan mengabdikan identitas, kemakmuran dan kekuatan bangsa itu yakni semangat kebangsaan. Maka marilah kita merawat Nasionalisme ini. Akhir kata Salam moke dari timur Flores. Aman to sayang?. (Alberto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed