Diduga Lakukan Malapraktik, Dokter Rumah Sakit Ibu Dan Anak Gedangan Sidoarjo Dilaporkan Ke Polda Jatim

Total views : 177
  • Bagikan

SIDOARJO, faamnews.com – Diduga ada kelalaian hingga mengakibatkan janin yang dikandungnya meninggal,
seorang ibu berinisial (S), yang juga menantu dari LM yakni kepala desa di wilayah Sedati mengadu ke Polda Jatim.

Dan di dampingi kuasa hukum Soegeng Harikartono SH, dan keluarga korban mendatangi ruang SPKT Polda Jatim,Kamis (3/3/2022) untuk melaporkan adanya dugaan malpraktek yang di lakukan oleh oknum dokter di salah satu Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) di Gedangan Sidoarjo.

Terhadap korban ( SB ) Keluarga pasien LM melaporkan oknum dokter berinsial (EY), dengan tuduhan, telah melanggar pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana,yakni melakukan kelalaian yang menyebabkan kematian seseorang.

Keluarga pasien juga kecewa karena sampai janin yang ada di kandungan meninggal, hingga ibu bayi masih dalam perawatan hingga keluar rumah sakit, dokter tidak pernah bertemu atau menemui pasiennya,” kata Soegeng, Kuasa Hukum dari keluarga korban.

( LM ) yang merupakan kakek dari korban, menjelaskan kronologisnya sebagai berikut, “Pada hari Rabu (23/2/2022) sekitar pukul 02.00 Wib, putra saya yang berinsial (AP) dan istrinya berinisial (S), mendatangi RSIA di daerah Gedangan Sidoarjo, untuk memeriksakan kandungan karena usianya sudah memasuki bulan ke-9 dan adanya
tanda-tanda akan melahirkan,” jelasnya. Keluarga korban yang didampingi kuasa hukum saat melapor di Mapolda Jatim,

Lanjut ( LM ) sampai di rumah sakit langsung ke UGD dan di periksa oleh dokter jaga, Hasil pemeriksaan awal, bahwa ( S ) ini sudah ada pembukaan satu, akhirnya disarankan dokter jaga untuk opname dan menunggu proses kelahiran. ( AL ) dan ( S ) menyetujui dan memilih kamar kelas 1 VIP (ruangan Lily 1).

Sekitar pukul 14.00 Wib di hari yang sama, dokter ( EY ) datang dan memeriksa kondisi ( S ) Dari hasil pemeriksaan di simpulkan, bayi dalam keadaan sehat dengan estimasi berat 2,5 kg, dan tetap di pembukaan satu.

Dokter EY mengatakan,untuk memastikan kondisi bayi akan di lakukan USG pada hari Kamis (24/2/2022) pukul 09.00 Wib. Namun ditunggu hingga jam 11.00 Wib belum ada kabar, Hingga akhirnya ada informasi bahwa dokter ( EY ) ada susulan ke Banyuwangi karena mertuanya meninggal dunia,”ujarnya.

Sekitar pukul 13.00 Wib, ( AP ) mendatangi perawat jaga karena kondisi istrinya perutnya sakit terus, dan ( AP ) juga meminta kepada perawat jaga untuk
segera di lakukan operasi caesar. Setelah perawat jaga berkonsultasi kepada dokter ( EY ), pihak rumah sakit tidak berani melakukan operasi caesar, karena menurut dokter ( EY ) saat di hubungi via telepon oleh perawat, kondisi janin masih belum matang dan berat badan
belum memenuhi,”paparnya.

“Sekitar pukul 14.00 Wib, perawat masuk ke ruangan kamar S dengan membawa obat, yang menurut versi keterangan dari perawat tersebut, obat tersebut untuk menunda kontraksi melahirkan. dan Obat tersebut dimasukkan melalui dubur, kemudian pukul 16.00 Wib dimasukkan obat yang sama ke ( S ), yang kembali melalui dubur,” lanjutnya.

Sekitar pukul 18.00 Wib, Kamis (24/2/2022) perawat memeriksa kondisi
S dan juga kandungannya. Alangkah kagetnya karena pada waktu di periksa detak jantung bayi yang ada dikandungan sudah tidak ada. Akhirnya perawat memanggil dokter berinisial M (dr senior), setelah di periksa dengan seksama oleh dokter ( M ), akhirnya di pastikan kondisi bayi yang ada di kandungan sudah meninggal dunia.

“Sebelumnya dokter M ini, sempat ngobrol dengan ibu ( S ) dan disaksikan ( AP ) beliau mengatakan “kalau saya berani dan langsung lakukan tindakan opersi caesar untuk meyelamatkan bayi yang ada di kandungan”. Karena menurut versi dokter ( M ) kondisi bayi sudah matang dan berat badan sudah memenuhi (estimasi 2,6Kg) dan juga sehat,”ungkapnya.

Soegeng Harikartono dan Patner
Sekitar pukul 21.00 Wib ( LM ) dan keluarga datang ke rumah sakit dan langsung masuk ke kamar ( S ) dan meminta keterangan perawat jaga. Tapi belum mendapat jawaban yang memuaskan, akhirnya ( LM ) dan ( AP ) meminta untuk ketemu dokter ( M ) yang saat dihubungi masih praktek.

”Akhirnya selesai praktek, ( LM ) di temui dokter ( M ) beliau menjelaskan kalau bayi ( S ) sebenarnya sudah bisa dikeluarkan. Karena menurut analisa dokter ( M ) bayi sudah matang dan berat juga sudah memenuhi. Beliau juga heran dengan analisa dokter ( EY ) yang menyatakan bayi belum matang dan kalau di paksakan melahirkan akan lahir premature,” jelasnya.

Kejadian masih berlanjut, malamnya pada pukul 23.30 Wib, pihak RSIA Gedangan, Sidoarjo memutuskan untuk memberi obat pendorong meskipun bayi yang ada dalam kandungan sudah meninggal agar bisa keluar secara normal. Akhirnya di tunggu hingga hari Jumat pagi, belum ada tanda-tanda bayi akan lahir.Jam 09.00 Wib, ( LM ) akhirnya marah-marah ke perawat dan staf rumah sakit, meminta untuk segera di lakukan operasi caesar.

Karena terjadi ketegangan, akhirnya ( LM ) diajak keruangan direktur untuk diskusi, dan ( LM ) tetap bersikeras agar dilakukan operasi caesar. Setelah melihat kondisi ( S ) yang sudah agak membiru di wajahnya dan juga kesakitan. Akhirnya pihak rumah
sakit menyetujui untuk di lakukan tindakan operasi hingga kurang lebih dua jam, dan akhirnya bayi berhasil dikeluarkan dalam keadaan meninggal dunia, dengan berat 2,6 Kg pungkas ( LM ).

Sementara ( E ) dokter RSIA Gedangan, Sidoarjo yang saat di konfirmasi melalui sambungan telepon mengatakan, belum bisa memberikan komentar terkait permasalahan tersebut, karena masih sibuk operasi pasien. Dan mengaku akan menghubungi balik. (Zain)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.